Beberapa waktu lalu jika kita membaca koran, ada berita mengenai lengsernya presiden libya yakni Muammar Khadafi. Seorang pemimpin yang telah berkuasa sejak tahun 1969, tapi pada tahun itu(1969) dia belum menyandang jabatan resmi sebagai presiden libya, khadafi saat itu menyandang jabatan sebagai kolonel, dan ia di juluki sebagai "Guide of the First of September Great Revolution of the Socialist People's Libyan Arab Jamahiriya" atau "Brotherly Leader and Guide of the Revolution". Setelah berkuasa, Khadafi yang telah berpangkat kolonel melancarkan revolusi budaya yang mengandung inti penyingkiran semua ideologi dan pengaruh yang berbau asing, seperti kapitalisme dan komunisme. Ia kemudian mengembangkan masyarakat baru berdasarkan prinsip-prinsip sosialisme Libya dengan semboyan "sosialisme, persatuan, dan kebebasan".
Dan sejak saat itu banyak konflik terjadi antara AS dan Libya dalam bidang diplomatik dan militer. Diantaranya yakni pembakaran kedubes AS di tripoli pada tahun 1979, kemudian AS membalas dengan menembak dua pesawat tempur Libya yang tengah terbang di atas teluk sidra. Muammar Khadafi telah memimpin Libya selama empat dekade, sudah dua presiden AS yang telah merasakan berseteru dengan Muammar Khadafi, yakni Ronald reagan dan George Walter Bush. Khadafi dianggap sebagai penjahat di negara sendiri, musuh khadafi memang bukan sembarang negara. AS merupakan negara yang pandai berpolitik, AS juga memiliki militer yang kuat. AS juga berperan dalam lengsernya presiden Irak Saddam Husein, presiden mesir Hosni Mubarrak, dan kini presiden Libya Muammar Khadafi. Tiga presiden tersebut di lengserkan dengan alasan yang tak jauh berbeda yakni, di tentang oleh penduduk negaranya sendiri. Tapi coba sekarang kita tengok Irak sebelum presiden Saddam Husein lengser. Irak adalah negara yang memiliki militer yang kuat, pendidikan yang terbilang maju. Setelah Saddam Husein di lengserkan oleh rakyatnya sendiri dengan bantuan AS, bukannya demokrasi dan kemerdekaan yang di dapatkan. Tapi Irak malah menjadi negara boneka, yang mana sumber daya alamnya di kuasai oleh AS yakni minyak.
Berbagai polemik terjadi dalam revolusi Libya diantaranya, banyaknya demonstrasi yang bahkan sampai menelan korban jiwa. Tapi kita juga harus menelisik apa yang di sebarkan di media, kita harus pandai memilih dan memilah. Kita ambil contoh saja, Daily Mail pernah menyatakan bahwa Militer Libya telah membak mati ribuan demonstran, tapi Muammar Khadafi menyangkalnya dengan mengatakan “Mana buktinya bahwa militer saya menembak mati para demonstran, katakan pada NATO kalau memang militer saya menembak mati para demonstran mana bukti mayatnya?” Nah dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa tak semua kabar tentang kejahatan timur tengah itu benar, karena di dalamnya banyak terdapat unsur-unsur politik yang terpendam.
Jika kita mengaca dari apa yang telah di alami oleh Irak, yang menjadi pertanyaan kita adalah. Apakah mungkin nasib Mesir dan Libya akan sama seperti Irak????? Kita tidak tahu itu, tapi yang jelas Mesir dan Libya termasuk negara penghasil minyak yang besar. Presiden libya sekarang adalah Mustafa Abdul Jalil yang dulunya adalah pejabat libya, yang kemudian ikut menentang Muammar Khadafi yang bergabung dengan pihak oposisi. Kita lihat saja bagaimanakah nasib Libya setelah dilengserkannya Muammar Khadafi dan digantikan oleh Mustafa Abdul Jalil.
27 09 2011
This entry was posted
on Senin, 28 November 2011
at 01.12
. You can follow any responses to this entry through the
comments feed
.
