Di atas gubuk kayu reyot yang terbuat dari anyaman bambu
Kami bermain, bercanda, bersukaria, tertawa
Senda gurau selalu menghiasi hari-hari kami
Senyu terbersit di bibir mungil kami
Baju kami lusuh
Gaya kami kolot
Kami tidak pernah mengerti yang namanya TV
Yang kami tau hanya pemandangan sawah yang terhampar luas di depan mata kami
Kami tak pernah merasakan bangku sekolah
Yang kami tahu hanyalah bermain dan harus menjadi petani di kala kami remaja nanti
Bahkan jika nasib sedikit kejam
Kami tak akan pernah merasakan bermain di waktu kecil
Cangkul, sapi, dan sengatan matahari di sawah yang terus menemani kami
Terangah kepala kami ke langit yang luas itu
Bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa
Meski kami tak pernah merasakan modernisasi
Setidaknnya kami masih memiliki kultural yang masih melekat kuat di sekitar kami
Meski kami tak pernah merasakan yang namanya globalisasi
Setidaknya kami masih mempunyai hati nurani
Sebulan sekali selembaran kertas yang katanya bernama “Koran” masuk di desa kami
Di bawa seorang pedagang cabai yang sebulan sekali pergi ke tempat yang bernama kota
Ku lihat lembaran itu ada tulisan yang tidak ku mengerti maksudnya
Bukannya kami buta, kami Cuma tidak bisa membaca
Karena memang kami tak pernah di ajarkan yang namanya membaca
Hanya segelintir orang saja diantara kami yang bisa membaca
Bisa di hitung dengan jari, diantara kami yang pernah merasakan bangku sekolah
Meskipun tak pernah lebih tinggi dari tingkatan SD
This entry was posted
on Senin, 28 November 2011
at 01.12
. You can follow any responses to this entry through the
comments feed
.
