Mendengung simphoni malam yang membangunkanku dari dunia mimpi, dan menyeretku untuk kembali berdiri dalam alam yang begitu menyebalkan. Menyebalkan tapi tak dapat terelakkan, menyebalkan tapi indah dan mengagumkan, menyebalkan karena akulah yang sering mengabaikan. Kusirami qalbu yang haus dengan air do’a, dan kuingat bahwa dalam selimut malam ini kumelupakan lagi kewajiban yang seharusnya tak begitu saja kuremehkan, kewajiban yang bahkan manusia paling mulia memperjuangkannya dengan menghadap langsung pada sang Pencipta. Kewajiban yang dilaksanakan lima kali dalam sehari, lebih dua waktu dari normalnya orang meminum obat, tapi obat ini lebih ampuh. Memuaskan kehausan jiwa, mengeyangkan hati, meski terlampau sering aku tak mengeyamnya. Abidah El-Khalieqy dalam karyanya yang berjudul ‘GeniJora’ mengungkapkan, ‘Menunda makan, jadi lapar. Menunda minum, kehausan. Menunda kerja, melarat terus. Dan menunda bertemu, akan merindu. Kebaiakan macam apakah yang dihadiahkan oleh menunda? Tapi aku heran, kala menunda shalat, aku merasa biasa-biasa saja. Mungkin hatiku masih kaku, atau bahkan mati. Sehingga seruan Tuhan yang begitu jelas dalam firmanNya, dalam hadits yang disampaikan RasulNya. Ah entahlah, sebatas inilah kemampuan hambamu ini ya Allah.
Innal Hayaata Aqiidatun WaJihaadun. Sesungguhnya hidup adalah prinsip dan perjuangan. Kata itu digumamkan oleh Abidah El-Khalieqy. Tak jauh dari kata Life Is Stugle. Dan kini satu pertanyaan muncul, ‘Sudahkah aku berjuang?’. Dalam umurku yang kini telah menginjak 17, aku bahkan tak merasa pernah membahagiakan orang tuaku, hanya kekecewaan yang selama ini kupersembahkan. Aku tak pernah bisa memberikan amal yang baik kepadaTuhanku, hanya kemaksiatan yang melumuriku bagai lumpur panas yang menenggelamkan bumi sidoarjoku.
Ana urid, wa anta turid, wallahu yaf’alumaa yurid. Itu yang dituliskan haibara di twitternya. Sindiran yang sangat halus tapi sungguh berasa. Sosok seorang haibara, bagaiakan wanita yang tengah duduk diatas kuda perang, dengan menggenggam pedang yang siap menebas leher-leher para kafir yang terus saja mencoba merobohkan dinding agama islam. Haibara lebih dari orang yang telah mencuri perhatianku, ia telah mencuri keangkuhanku, dan menapmparku untuk mau menoleh kepada hak-hak seorang ‘Wanita’. Hak seorang wanita untuk memilih, hak seorang wanita untuk dihargai, tak Cuma sebagai makhluk pemuas nafsu para kaum adam, tak hanya sebagai makhluk pelengkap dalam cerita kehidupan. Haibara menyispkan pendidikan gender padaku dalam setiap tutur katanya, dalam setiap keputusannya. Selama ini aku memang berkehendak untuk memilikinya, anganku untuk dapat mendekapnya lebih besar dari lautan. Tapi semua itu ia patahkan dengan prinsip yang bahkan lebih dalam dari lautan inginku, lebih luas dari angkasa anganku. Aku sering tertawa sendiri, tertawa dengan sedikit terasa kecut tapimanis. Nafsuku diinjaknya, ego ku diacuhkannya. Setiap untaian katanya selalu membuat hatiku menggumam ‘Allah’, dan setiap prinsip yang teguh berdiri dalam hatinya membuatku mengucap ‘Subhanallah’. Entah, ini kejujuran ataukah dusta? Mungkin memang ada yang mengatakan bahwa untaian kata adalah perwakilan dari suara hati. Tapi aku benci, aku benci pada orang yang menggunakan untaian kata untuk memuaskan nafsu radikalnya, menggunakan kata mendayu-dayu hanya untuk mengecam pemerintah. Memang pemerintah memiliki segala kekurangan, memang pemerintah sering melakukan kesalahan. Tapi pernahkah kita membayangakan, bagaimana nasibnya rakyat ini tanpa pemerintah. Bukannya aku bermaksud untuk pro pemerintah, aku hanya ingin menghargai kata Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya ‘Ulumuddin yang mengatakan ‘Suatu kaum yang dipimpin seorang pemimpin dzolim, itu lebih baik dari pada kaum yang tidak mempunyai pemimpin’.
Aku yakin kala ada orang yang membaca tulisan ini akan mengatakan, ‘Manusia macam apa kau ini? Tidak mau memperdulikan nasib rakyat miskin, tidak mau menoleh sejenak pada bangsa kita yang terabaikan. ’Bukan maksud ku untuk tidak memperdulikan nasib rakyat miskin, aku hanya ingin mengingatkan cara pandang bangsa kita, yang mengaku berdasarkan ‘Pancasila’ dan beragama ‘Islam’. Sebelum aku melanjutkan, aku ingin bertanya. ‘Apakah pancasila mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang patriarki?Apakahnabi Muhammad SAWmengajarkankitamenjadimanusia yang menyuarakan demokrasi berselimut anarki? ’Sah-sah saja memang kita menyuarakan aspirasi, bahkan UUD 1945 melindungi kita dalam pasal 28 yang memperbolehkan setiap warga negara Indonesia menyampaikan pendapatnya memalui lisan maupun tulisan. Tapi apakah harus dengan cara saling baku hantam? Atau dengan cara menyamakan presiden dengan kerbau? Hah. Demokrasi macam mana pula itu?! Sudah cukup membahas demokrasi, karena aku masih bayi dalam literatur tentang ‘Demokrasi’. Biar saja kaum yang mengaku intelektual itu menyuarakan demokrasi dengan cara mereka sendiri, yang penting aku tak ingin mengenal demokrasi mereka. Lakum diinukum waliyadiin.
03 April 2012/03.05
Faiz Ahmad Nuzuliansyah
This entry was posted
on Rabu, 11 April 2012
at 00.15
. You can follow any responses to this entry through the
comments feed
.
