Kumerangkak ke kegelapan
Kemudian bersuaraku
Kuberjalan ke cahaya
Kemudian terdiamku
Sang algojo waktu yang membawa pedang
Dengan sorot matanya yang merah menyala
Sang malaikat berdiri tegak mengarungi sungai di sebrang
Dia masih gagah dengan tongkat yang dipeganginya
Anak kecil yang duduk di panggung sandiwara itu
Seakan berteriak di dalam sepinya
Dengan kepala yang terus tertunduk lesu tak bertulang
Tapi teriakan hatinya sungguh telah memecah langit
Ku masih bersuara dalam gelapku
Bertanya-tanya
kapankah sang algojo waktu akan memenggal leherku?
Dan ku masih terus bersuara dalam cahayaku
Mencoba menggoreskan tinta
Entah ini pesan terakhirku
Jika memang benar
Ku minta dua kalimat saja
Jangan lupakan aku
Dan maafkan atas semua salahku
Kemudian bersuaraku
Kuberjalan ke cahaya
Kemudian terdiamku
Sang algojo waktu yang membawa pedang
Dengan sorot matanya yang merah menyala
Sang malaikat berdiri tegak mengarungi sungai di sebrang
Dia masih gagah dengan tongkat yang dipeganginya
Anak kecil yang duduk di panggung sandiwara itu
Seakan berteriak di dalam sepinya
Dengan kepala yang terus tertunduk lesu tak bertulang
Tapi teriakan hatinya sungguh telah memecah langit
Ku masih bersuara dalam gelapku
Bertanya-tanya
kapankah sang algojo waktu akan memenggal leherku?
Dan ku masih terus bersuara dalam cahayaku
Mencoba menggoreskan tinta
Entah ini pesan terakhirku
Jika memang benar
Ku minta dua kalimat saja
Jangan lupakan aku
Dan maafkan atas semua salahku
This entry was posted
on Senin, 19 Desember 2011
at 02.05
. You can follow any responses to this entry through the
comments feed
.
